Konteks pernyataan Yusril Ihza Mahendra tentang film Dirty Vote

Yusril Ihza Mahendra kritik film Dirty Vote sebagai propaganda, soroti dinamika politik & pentingnya pemilu adil.

Yusril Ihza Mahendra kritik film Dirty Vote sebagai propaganda, soroti dinamika politik & pentingnya pemilu adil.

JualPlakat.com – Guru besar hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendra, mengeluarkan pendapat kontroversial tentang film “Dirty Vote“, yang menurutnya bukanlah sebuah dokumenter, melainkan propaganda kotor. Film ini dirilis menjelang pemungutan suara Pemilu 2024, menimbulkan spekulasi tentang tujuan dan waktu perilisannya.

Definisi Dirty Vote

“Dirty Vote” merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut tayangan yang mendiskusikan potensi kecurangan dalam pemilu. Namun, Yusril berpendapat bahwa esensi dari film tersebut lebih condong ke arah menyebarkan propaganda.

Menurut Yusril, pilihan waktu dan konteks perilisan “Dirty Vote” menjadikannya alat propaganda. Film tersebut, dengan mengambil cuplikan berita dan komentar dari tiga pakar hukum, cenderung membangun narasi tentang kemungkinan kecurangan dalam Pemilu 2024.

Baca Juga:

Masa Tenang Pemilu 2024: Aturan dan Sanksi

Konten film yang berdurasi hampir dua jam ini dianggap Yusril tidak layak disebut sebagai dokumenter karena didominasi oleh pendapat subjektif para pakar.

Yusril menyoroti dinamika politik yang ditampilkan dalam film, khususnya terkait sikap Gibran Rakabuming Raka dan ketidaknetralan penyelenggara pemilu. Dia menekankan bahwa politik adalah sesuatu yang dinamis, sehingga perubahan sikap dalam politik merupakan hal yang normal.

Kritik terhadap Ketidaknetralan

Yusril mengkritik film tersebut karena hanya menampilkan satu sisi, terutama menyoroti pasangan Prabowo-Gibran dan Ganjar-Mahfud MD, sementara minimnya tayangan tentang Anies-Muhaimin menimbulkan pertanyaan tentang keberpihakan film ini.

Menurut Yusril, film “Dirty Vote” cenderung bersifat tendensius dan mengandung propaganda. Namun, dia juga menegaskan bahwa film tersebut merupakan bagian dari kebebasan berekspresi.

Yusril menghargai film “Dirty Vote” sebagai bentuk kebebasan berekspresi, menunjukkan bahwa perbedaan pendapat dalam masyarakat adalah hal yang normal.

Dalam konteks demokrasi, penting bagi masyarakat untuk bisa menerima dan menghargai kritik sebagai bagian dari proses demokratis.

Masyarakat dan Pemilu

Yusril berharap masyarakat dapat berpikir jernih dan objektif dalam menilai pemilu, mengakui bahwa tidak ada pemilu yang sempurna, tetapi yang penting adalah proses yang jujur dan adil.

Film “Dirty Vote” berpotensi memecah belah masyarakat. Yusril mengingatkan pentingnya menjaga kesatuan dan menghadapi perbedaan pendapat dengan bijaksana.

Menghadapi perbedaan pendapat dengan sikap bijaksana adalah kunci untuk menjaga keutuhan masyarakat dalam menghadapi pemilu.

Sumber : www.beritasatu.com

Yusril Sebut Film Dirty Vote Propaganda Kotor

About The Author